Our Social Media

Visitors

Unique

Pages|Hits |Unique

  • Last 24 hours: 119
  • Last 7 days: 697
  • Last 30 days: 1,942
  • Online now: 2

Agenda

September 2016
M T W T F S S
« Feb    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Blogging page

Kolaborasi Pengelolaan Taman Tematik di Kota Bandung

KOLABORASI PENGELOLAAN TAMAN TEMATIK DI KOTA BANDUNG

oleh

Zainab Nururrohmah

(Abstrak Thesis, Program Studi Magister Perenanaan Wilayah dan Kota, ITB)

Taman Tematik Kota Bandung merupakan salah satu konsep pembangunan yang mampu melibatkan partisipasi aktif berbagai aktor dalam pengelolaannya. Kolaborasi dan inovasi merupakan kunci keberhasilan program yang dibangun atas kekuatan jaringan dan pendekatan partisipatif ini. Program ini memeroleh sedikitnya dua penghargaan atas inovasi dalam pelaksanaannya. Kajian terkait pengelolaan taman tematik sangat penting dilakukan, agar keberjalanan program tersebut dapat berkelanjutan. Namun demikian, penelitian mengenai kolaborasi dalam pengelolaan taman tematik belum pernah dilakukan. Oleh Karena itu, tesis ini berupaya mengkaji pengelolaan Taman Tematik Kota Bandung dalam perspektif perencanaan kolaboratif.

Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Metode ini dipilih karena penelitian yang diangkat terkait dengan pendekatan kolaboratif, dimana hal tersebut berkaitan dengan fenomena sosial yang terdiri atas pelaku, kejadian, tempat, dan waktu. Data primer diperoleh melalui hasil wawancara mendalam kepada 13 aktor yang terlibat dalam proses pengelolaan taman tematik diantaranya SKPD terkait, perusahaan penyumbang, tenaga ahli, akademisi, dan penyusun kajian terkait taman tematik. Sumber data primer lainnya adalah hasil observasi lapangan terhadap 14 taman tematik yang telah dibangun, diantaranya Taman Fotografi, Taman Anak Tongkeng, Taman Skateboard, Taman Film, Taman Super Hero, Taman Musik, Taman Persib, Taman Jomblo, Taman Fitness, Pet Park, Taman Lansia, Taman Kandaga Puspa, Taman Vanda, dan Taman Gesit. Analisis stakeholder dipilih sebagai metode untuk mempelajari dan merumuskan hubungan serta keterlibatan aktor di dalam perencanaan kolaboratif terkait pengelolaan taman tematik.

Hasil penelitian menunjukan bahwa proses kolaborasi berjalan baik, antar-aktor yang terlibat memiliki hubungan timbal balik yang kooperatif, dan terjalin partisipasi aktif dalam pengelolaan dan pembiayaan taman tematik. Namun demikian, pendekatan ini berjalan secara sporadis dan pragmatis. Hal ini akan berdampak pada keberlanjutan program pasca periode kepemimpinan Walikota Bandung 2013-2018 berakhir. Karenanya perencanaan kolaboratif ini perlu ditetapkan dalam suatu sistem kebijakan yang mengikat. Selain itu, diperlukan pewarisan norma-norma kolaborasi terutama dalam tubuh masyarakat dan SKPD terkait, sehingga pendekatan ini dapat menjadi sistem nilai yang berkelanjutan.

 

Kata kunci: Taman Tematik Kota Bandung; perencanaan kolaboratif; kekuatan jaringan; pendekatan partisipatif.

Pameran Foto Karya Lomba Foto

Sudah lazim dalam persiapan sebuah acara, panitia berkumpul untuk menyiapkan suksesnya acara tersebut. Pun demikian dengan persiapan puncak acara peringatan hadirnya IALI ke-38 oleh Pengurus Daerah Jawa Barat, yang puncak acaranya dilaksanakan pada Hari Kamis, tanggal 25 Februari 2016 lalu.

Dalam salahsatu pertemuan, muncul ide untuk melaksanakan acara pameran 50 Karya Terbaik di ruang terbuka, tidak di ruangan seperti biasa dilakukan. Awalnya, usulan lokasi pameran adalah di sepanjang jalur pedestrian pada koridor Jl. Asia Afrika. Koridor ini dipilih, karena berada diantara dua lokasi utama rangkaian acara, yaitu antara Pendopo dan hotel tempat acara selanjutnya akan diadakan. Dengan demikian, acara jalan kaki dari pendopo ke hotel menjadi lebih beralasan.

Dalam prosesnya, terkait perizinan, juga dengan memperhatikan faktor keamanan bagi pengendara (dikhawatirkan akan mengganggu konsentrasi pengendara), akhirnya diputuskan bahwa Pameran 50 Karya Terbaik akan dilaksanakan di koridor Jl. Soekarno (dulu bernama Jl. Cikapundung Timur).

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya panitia sepakat pameran diadakan di koridor tersebut.

Kendala yang dihadapi dari keputusan ini adalah, pada jam tertentu anginnya sedemikian kencang sehingga beberapa frame terjatuh dan beterbangan tertiup angin, alau sebelumnya layout frame sudah diatur sedemikan rupa sehingga aman jika ‘katebak angin’…

Berikut adalah beberapa foto suasana pameran (foto dari album Pak Kustaman dan Mbak Rere).

Pemenang Lomba Foto “Aku dan Taman Kotaku”

Dari 50 Karya Terbaik pada Lomba Foto bertema “Aku dan Taman Kotaku”, dewan juri yang terdiri dari Bapak Dudi Suganda (Jurnalis Foto), Bapak Hasim Irfan (PAF), dan Bapak A. Firmansam (IALI Jabar), telah memilih dan menetapkan 3 karya sebagai Pemenang Lomba Foto “Aku dan Taman Kotaku” 1, 2, dan 3. Sedangkan 1 karya merupakan karya favorit yang mendapatkan ‘like’ terbanyak di halaman FB IALI Jawa Barat.

Keempat karya tersebut adalah:

Juara I, berjudul “Taman Anak Sungai Cikapayang” karya Yosi Samsul Maarif

Juara II, berjudul “Berkumpul di Taman Alun-Alun” karya Sony Herdiana

Juara III, berjudul “Skate is My Style” karya Kenny Sie

Juara Favorit (“like” terbanyak), berjudul “Bercengkrama Bersama Anak di Taman Foto Bdg” karya Agus Sofyanudin

50 Karya Lomba Foto bertema “Aku dan Taman Kotaku”

Pengurus Daerah Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI) Jawa Barat, melalui Panitia yang dibentuk dalam rangka memperingati 38 tahun IALI sebagai satu wadah profesi bagi Arsitek Lansekap di Indonesia, mengadakan kegiatan Lomba Foto bertema “Aku dan Taman Kotaku” dari Januari sampai Februari 2016. Lomba Foto ini mempersyaratkan bahwa taman yang ditampilkan adalah taman yang ada di wilayah Jawa Barat.

Bukan mustahil ke depannya kegiatan Lomba Foto ini akan menjadi ajang berskala nasional sehingga taman yang direkam dan ditampilkan dalam foto adalah taman di manapun di wilayah Indonesia. Ide kegiatan ini berawal dari semakin maraknya pembangunan dan penggunaan/pemanfaatan/aktifitas di taman atau ruang terbuka kota, khususnya di kawasan perkotaan di Kabupaten dan atau Kota di Jawa Barat, terutama taman-taman yang ada di Kota Bandung (dipimpin Pak Ridwan Kamil sebagai wali kota saat ini), sebagai ibukota Provinsi Jawa Barat.

Foto-foto yang ditampilkan baik di media sosial, liputan di media cetak maupun media elektronika memperlihatkan perhatian yang semakin serius terhadap keberadaan dan fungsi serta peran taman atau ruang terbuka di kawasan perkotaan, meperlihatkan interaksi yang semakin semarak dan intensif antara warga dengan lingkungan, terutama di taman (RTH). Tidak mau ketinggalan dari Kota Bandung, Kabupaten dan Kota lain di Jawa Barat meneruskan dan meningkatkan kembali pelayanan kepada masyarakat melalui penataan dan pembangunan kembali taman dan atau ruang terbuka di kawasan perkotaan.

Kretifitas dalam penataan taman pun bermunculan, biasanya berbanding lurus dengan kemampuan di sisi pelaksanaan dan ketersediaan sumber dana yanag dimiliki. Pun demikian dengan pemerintah pusat. Program-program terkait kegiatan penataan ruang terbuka kota, terutama ruang terbuka hijau semakin ditingkatkan, salahsatunya melalui Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH), yang dalam konteks penataan dan pelaksanaan pembangunannya berusaha menerapkan 8 Prinsip Kota Hijau. Berbeda dengan Kota Bandung yang memiliki interaksi dan komunikasi antara pemerintah (baik Wali Kota langsung ataupun melalui dinas/instansi terkait) dengan masyarakat baik secara offline maupun online, beberapa kota dan kabupaten masih memiliki keterbatasan dalam hal teknis interaksi dan komunikasi dengan masyarakat umum, sehingga apa yang sudah dibuat/dilaksanakan, masih kurang termanfaatkan secara maksimal, atau mungkin masyarakat belum merasa ‘diajak’ untuk memanfaatkannya.

Mengangkat tema “Aku dan Taman Kotaku”, Pengurus Daerah IALI Jawa Barat mengajak warga masyarakat untuk mengikuti Lomba Foto, dengan setting lokasi adalah taman-taman yang berada di Wilayah Jawa Barat. Diharapkan melalui lomba foto ini keberadaan, keindahan, atau potensi taman kota di masing-masing kota dapat semakin terinformasikan secara lebih luas kepada masyarakat.

Masa pemasukan karya yang tergolong relatif singkat berhasil menjaring sebanyak lebih dari 200 karya dari 100-an peserta. Dalam proses penjurian, IALI Jabar bekerja sama dengan PAF (Perhimpuntan Amatir Foto) Bandung sehingga diharapkan proses penilaian karya mengkombinasikan kaidah-kaidah atau kriteria penilaian baik dari segi fotografi dan konten arsitektur lansekap.

Selamat kepada para peserta yang karyanya mendapat penilaian 50 terbaik. 3 karya terbaik menurut Dewan Juri akan mendapat penghargaan sebagai karya terbaik 1, 2, dan 3, dan akan diumumkan dalam acara puncak peringatan 38 tahun IALI, yang dilaksanakan pada tanggal 25 Februari 2016. Berikut adalah ke-50 karya yang masuk dalam 50 besar.

 

 

Sukaratu Village, Cibolang Village and Cisanti Lake in Landscape Prosperity of Wayang-Windu Mountains West Java

SUKARATU VILLAGE, CIBOLANG VILLAGE AND CISANTI LAKE IN LANDSCAPE PROSPERITY OF WAYANG-WINDU MOUNTAINS WEST JAVA

(Presented in IFLA APR Congress, Lombok, 7 – 9 September 2015) 

Aprillia, Kusriantari Fenny1, Monthazeri, Rido2

 

¹ Master Student, Landscape Architecture Department, Bandung Institute of Technology

² Master Student, Landscape Architecture Department, Bandung Institute of Technology

 

Email: fenny.aprillia.90@gmail.com

Abstract

 

South district of Bandung is a highland with many mountains, two of them there are Wayang Mountain and Windu Mountain. Cisanti Lake which located at the east side of Wayang Windu Mountains is a source of Citarum River. The river is used to fulfill water need of society in Bandung and surrounding areas. At the west side of Wayang Windu Mountains there are Sukaratu and Cibolang Village which is located at valley of the mountains with a great water surface and soil resources. Besides that there is a geothermal potential that is used by Star Energy Company as a power plant. Regardless of its potential and Cisanti Lake as an upstream of Citarum River must be preserved, there are several problems of environment which can be harmful for human and flora fauna habitats around Wayang Windu Mountains.

The disaster happens caused of human activity such as landslide, flood and sedimentation. All of them caused by land use changing from forest, riparian or tea gardens into agricultural land. Land use changing became agricultural land is carried out by residents to fulfil daily needs except their main profession as tea garden labourers. Besides that, water pollution which is caused by dirt of cows, agriculture and fishery activities bring the decreasing of water quality in the river. Hence, it becomes conflict between human needs and sustainable environment then finally all of those bring disaster which is caused by human itself.

The culture of farming, aquaculture and cattle breeding have become society’s livelihoods, but farming, aquaculture and cattle breeding which are not sustain causing environmental damage and affect the habitats of native flora fauna. Unsustainable agriculture was found in around of Cisanti Lake area causing landslide and flood can be resolved by the forest planting method which combines forest with agriculture in one site called agroforestry. People can plant vegetable without eliminates the functions of the forest itself. Unsustainable aquaculture by fish ponds was found in Sukaratu and Cibolang Village causing decline of river water quality. Residual of fish feed and chemical of medicine can pollute water of the river. Decreasing of river water quality can be resolved by natural water treatment using gravel, soil and aquatic vegetation which is placed in every pond. Unsustainable cattle breeding were found in Cibolang and Cibereum Village (near Cisanti Lake) causing water polluted by dirt of cows till decreasing quality of river water towards downstream. Building wetland near the cattle breeding is the solution to reduce water pollution. Wetland design uses multi layer system and horizontal flow model.

 

Keywords: Wayang-Windu Mountains, sustainable fishery, sustainable agriculture, sustainable cattle breeding, landscape prosperity

Read More →

International Tourist Preference to Increase Visitor of Bromo Mountain as Main Destination in Indonesia

INTERNATIONAL TOURIST PREFERENCE TO INCREASED VISITOR OF BROMO MOUNTAIN AS MAIN DESTINATION IN INDONESIA

(Presented in IFLA APR Congress, Lombok, 7 – 9 September 2015) 

Balqis Nailufar1, Nuraini2 , Ray March Syahadat3

 

1 Graduate School of Landscape Architecture, Bogor Agricultural University

2Departement of Landscape Architecture, National Institute of Science and Technology

 

E-mail of contact person : balqisnailufar@gmail.com

 

Abstract

 

Indonesia has target to increased 10 million international tourist on 2015. Bromo as one of main destination in Indonesia, has role to reached the target. The aim of this study was to get information about international tourist preference of Bromo. The method that used was survey to 85 respondents from 35 countries. The data analyzed by descriptive statistic. To know the good view based on tourist preference, the data analyzed by scenic beauty estimation (SBE). Then, to know the tourist passion to visit Bromo, analyzed by McNemar Test. The results showed only 21,2% respondents that know Bromo. Good view of landscape was from Penanjakan 1. There were enhancement passion to visited Bromo after respondents looked the pictures of Bromo than after read the information about Bromo. Respondents needs toilet, safety, and local culture if they visited Bromo.

 

Keywords: scenic beauty estimation, McNemar test, landscape, tourism, tourist needs.

Read More →

The Management Concept of Mountain Based Destination Through Carrying Capacity Analysis in Situ Patenggang Nature Park, Bandung Region

 THE MANAGEMENT CONCEPT OF MOUNTAIN BASED DESTINATION THROUGH CARRYING CAPACITY ANALYSIS IN SITU PATENGAN NATURE PARK, BANDUNG REGION 

(Presented in IFLA APR Congress, Lombok, 07 – 09 September 2015) 

Fitri Rahmafitria1, Ghoitsa Rohmah Nurazizah2

1Lecturer of Management Resort & Leisure Study Program – Universitas Pendidikan Indonesia

2Lecturer of Management Resort & Leisure Study Program – Universitas Pendidikan Indonesia

 

E-mail of contact person : rahmafitria@upi.edu

 

Abstract

 

Bandung Region is famous for its mountainous forest landscape, and popular for its uniqueness of natural landscape and comfort climate. The tourism development in Bandung Region requires adequate natural space, to gain tourists satisfaction and environment sustainable. The increasing number of tourists and investments in the form of facilities and tourism infrastructure can lead to the decrease of land carrying capacity, especially if ignoring the concept of environmental friendly and sustainable management. Mountainous areas need a particular model of tourism management and it is not an easy task to do. On one hand, protection and preservation aspects become a main concern. On the other hand, the increasing number of tourists have become the main reason to explore the destination and gain material benefits from it. Thus, tourism management in mountainous areas has a vital function for the society and other inhabitants surrounding it (Arrowsmith et.al[1]; Dudley[2]).This study was conducted to determine the carrying capacity level in Situ Patengang Nature Park, Bandung Region. The study was based on the theory of Douglass[3] that “The use of excessive natural destination will lead to a reduction of tourism quality, and generally can reduce the quality of physical environment”. The data analysis was performed using the formula of carrying capacity which indicated by environment quality, the tolerance of nature resources, number of visitors, the use of nature resources and environment management. The analysis was used GIS as a tools to determine each thematic map and overlaying them to produce the carrying capacity map as the basic to develop a management concept of the area. Scoring technique based on weight standard is used to find the total score that indicate the area as low, medium or high carrying capacity. The analysis showed that the Situ Patengang Nature Park are dominated by the low carrying capacity area, medium quality of environment, high tolerance of natural resources, as well as low concentration of tourist activities, low benefits of natural resources, and low environmental management. The development concept of Situ Patengang Nature Park directed at 5 principles of ecotourism which lead to the creation of ecologically, financially, and socially sustainable activities. For the zoning, core zone should be place in high carrying capacity zones, service zone should be placed on medium carrying capacity zone, as well as buffer zone should be placed on low carrying capacity zone.

 

Keywords: mountain based destination, carrying capacity, natural tourism

Read More →

Workshop Taman Vertikal

Workshop Taman Vertikal akan diselenggarakan oleh Ikatan Arsitek Lanekap Indonesia (IALI) Jawa Barat, seperti disampaikan dalam poster berikut:

11082528_10153142846391768_945262131923704822_n

Untuk anggota IALI Jawa Barat, ditunggu kehadirannya.

Dialog Profesi IALI Jawa Barat dan Musyawarah Cabang IALI Kota Bandung, 07 Maret 2015

Pada tanggal 07 Maret 2015 telah dilaksanakan kegiatan Dialog Profesi IALI Jawa Barat dan Musyawarah Cabang IALI Kota Bandung, bertempat di Hotel Posters, Jl PHH Mustofa, Kota Bandung.

Kegiatan yang dilaksanakan mulai pukul 09.00 sampai 15.30 ini diikuti oleh lebih dari 50 anggota IALI Jawa Barat, juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung, Bapak Ir. Arief Prasetya yang menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara.

Rangkaian acara terdiri dari tiga sesi utama yaitu:

1. Dialog Profesi, dengan pembicara adalah Bapak M. Zaini Dahlan, alumni S1 dan S2 dari IPB yang sedang mengikuti program S3 di Kyoto Universiti, Jepang, mengangkat topik Lanskap Budaya Sunda (abstrak beliau dapat dibaca di sini) Read More →

Paradesc (Parahyangan Design Competition) 2015

Paradesc adalah Parahyangan Design Competition, suatu kegiatan sayembara desain yang diadakan oleh mahasiswa Jurusan Arsitektur, Universitas Katolik Parahyangan. IALI Jawa Barat menjadi salahsatu pendukung dari kegiatan dimaksud.

Berikut adalah poster dari kegiatan tersebut. Read More →