Our Social Media

Visitors

Unique

Pages|Hits |Unique

  • Last 24 hours: 0
  • Last 7 days: 0
  • Last 30 days: 0
  • Online now: 0

Agenda

December 2017
M T W T F S S
« Feb    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Blogging page

Study on The Characteristic of Sunda Parahiyangan Landscape for A Model of Sustainable Landscape Management: An Introduction of Kabuyutan System

ABSTRACT

Study on The Characteristic of Sunda Parahiyangan Landscape for A Model of Sustainable Landscape Management: An Introduction of Kabuyutan System *)

 

Mohammad Zaini DAHLAN1, NURHAYATI H. S. Arifin2, Wahju Qamara MUGNISJAH3, Katsue FUKAMACHI4, and Shozo SHIBATA5

 

1PhD student at Laboratory of Landscape Ecology and Planning, Graduate School of Global Environmental Studies, Kyoto University, Japan

2,3Lecturer at Department of Landscape Architecture, Bogor Agricultural University, Indonesia

4Associate Professor at Laboratory of Landscape Ecology and Planning, Graduate School of Global Environmental Studies, Kyoto University, Japan

5Professor at Laboratory of Landscape Ecology and Planning, Graduate School of Global Environmental Studies, Kyoto University, Japan

Read More →

Rhapis excelsa

Rhapis excelsa, Lady palm

Nama Latin: Rhapis excelsa

Nama Lokal: Palem Waregu

Jenis: palm, berumpun

Tinggi: mencapai 4 meter Read More →

Kerajinan Daur Ulang dari Kota Bandung

Kerajinan Daur Ulang dari Kota Bandung

Hari Minggu, 30 Nopember 2014 ini berkesempatan berkunjung ke workshop Sartika Kreasindo di Komplek Bumi Panyileukan Blok G4 No 23 Bandung, yang dikelola oleh Ibu Lidia Sartika, atau yang biasa dipanggil Ibu Enang di lingkungan RW 06 Kelurahan Cipadung Kidul, Kota Bandung ini. Read More →

Citrus sp

Citrus sp

 

Nama Latin: Citrus sp

Nama Lokal: Jeruk Nipis

Tinggi: 5-7 meter, sumber lain menyebutkan tingginya dapat mencapai 3 – 15 meter

Diameter: 3-6 meter Read More →

Dialog Profesi IALI Jawa Barat, September 2014

Dialog Profesi IALI Jawa Barat, September 2014

Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) Daerah Jawa Barat kembali mengadakan kegiatan Dialog Profesi pada Bulan September 2014. Kegiatan yang diselenggarakan pada Hari ini, Sabtu, 20 September 2014 di Sekretariat IALI Jawa Barat di jl Cipaku Indah XI No 16, Bandung. Read More →

Halal bi Halal IALI Jawa Barat

Halal bi Halal IALI Jawa Barat

Pada tanggal 17 Agustus 2014, bertepatan dengan dan dalalm rangka Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, IALI Jawa Barat mengadakan kegiatan Halal bi Halal yang bertempat di Amphiteater Komplek Alam Santosa Resort, Pasir Impun, Bandung. Read More →

Sayembara Desain RTH dan Arsitektur di Kota Bandung

Sayembara Desain RTH dan Arsitektur di Kota Bandung

Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung, bersama-sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Jawa Barat dan Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) Daerah Jawa Barat menyelenggarakan kegiatan sayembara yang dinamai Sayembara Desain RTH dan Arsitektur di Kota Bandung, untuk mewujudkan kota Bandung yang lebih asri, liveable, dan memiliki sarana rekreatif, edukatif yang ekologis dalam menghadirkan identitas tempat sebagai tengaran (landmark) kota Read More →

Perancangan Lanskap RTH Untuk Pengelolaan Limpasan Air Hujan di Daerah Pasang Surut Kota Pontianak

 PERANCANGAN LANSKAP RTH UNTUK PENGELOLAAN LIMPASAN AIR HUJAN DI DAERAH PASANG SURUT KOTA PONTIANAK

Oleh

Jockie Zudhy Fibrianto

(Abstrak Thesis, Program Studi Arsitektur Lansekap)

 

Intensitas curah hujan yang ekstrim akhir-akhir ini tepian Sungai Kapuas  di Kota Pontianak sering mengakibatkan terjadinya banjir. Banjir tersebut terjadi karena limpasan air hujan yang tidak terserap oleh tanah, akibat kurangnya area resapan seperti ruang terbuka hijau, penggunaan material yang tidak meresapkan air dan kondisi saluran drainase yang kurang baik, berakibat meluapnya limpasan air hujan di permukaan. Topografi yang rendah dan relatif landai dipengaruhi juga oleh pasang surut air Sungai Kapuas. Akibatnya limpasan air hujan di kawasan daratan kota tidak dapat selalu langsung dialirkan ke sungai, terlebih kondisi sungai sedang pasang, hal ini yang berdampak terjadinya genangan atau banjir khususnya pada kawasan tepian sungai. Untuk mengatasi terjadinya genangan atau banjir tersebut, perlu suatu metoda pengelolaan terhadap limpasan air hujan. Read More →

Perancangan Lanskap Dalam Upaya Revitalisasi Fisik Kawasan Kampung Beting di Kota Pontianak

PERANCANGAN LANSKAP DALAM UPAYA REVITALISASI FISIK

KAWASAN KAMPUNG BETING DI KOTA PONTIANAK

Oleh :

Restu Minggra

(Abstrak Thesis, Program Studi Magister Arsitektur Lansekap)

Kota Pontianak merupakan kota yang dilintasi oleh aliran sungai kapuas, dengan salah satu percabangannya berada di tengah-tengah kota Pontianak. Semenjak tahun 1771, kawasan ini menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Kadariyah yang kemudian menjadi pusat perkembangan Kota Pontianak. Kawasan Keraton Kadariyah berkembang bersamaan dengan munculnya kawasan Kampung Beting, yaitu pemukiman tepian sungai yang tumbuh di sekitar kawasan Keraton. Kampung Beting sendiri merupakan tempat tinggal bagi masyarakat maupun pedagang yang masih memiliki hubungan dengan pihak keraton. Kampung Beting memiliki kekhususan tersendiri karena kawasan ini tumbuh dalam lingkungan keraton, dan secara morfologis berdiri di atas lahan pasang surut yang memiliki sistem kanal sebagai jalur transportasi. Read More →

Optimasi Pemakaman Muslimin Sebagai RTH Potensial di Perkotaan

mkm01

 Optimasi Pemakaman Muslimin Sebagai RTH Potensial di Perkotaan *

*) Sebuah Gagasan Awal,  disajikan sebagai sebuah pemikiran awal mengatasi masalah kesulitan penyediaan lahan pemakaman di perkotaan

Oleh  :  Firmansam Bastaman

 

Pendahuluan

mkm01Keterbatasan lahan serta tingginya harga lahan di perkotaan merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari.  Tingginya permintaan akan lahan di satu sisi serta terbatasnya jumlah lahan di sisi yang lain,   menjadi pemicu yang signifikan terhadap melonjaknya harga lahan ini.  Ketersediaan lahan kosong di perkotaan saat ini  dapat di katagorikan sebagai barang langka yang sulit di peroleh sekalipun dengan dana yang besar.   Dampak ekologis baik sosial maupun fisik, kerap kali muncul sebagai akibat  pembebasan lahan.  Akibat buruk yang ditimbulkan sebagai akibat konversi lahan yang banyak dilakukan masyarakat ini, tidak ternilai lagi harganya.  Banjir, kelangkaan air,  kerusakan plama nutfah,  pencemaran,  terganggunya keaneka ragaman hayati serta berbagai kerusakan lainnya, merupakan  fenomena kerusakan lingkungan sebagai akibat hubungan interaksi manusia dengan lingkungannya ( Iskandar.2009). Masalah lingkungan seperti diuraikan di atas banyak terjadi di perkotaan. Tingginya angka pertambahan penduduk baik sebagai akibat jumlah kelahiran maupun urbanisasi menjadi pemicu terjadinya konversi lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun, sebagai konsekwensi  logis dari tingginya jumlah penduduk di perkotaan. Read More →